
Pernah merasa panik setelah menyadari uang salah masuk ke rekening orang lain? Situasi seperti ini tentu membuat siapa pun ingin segera menyelesaikannya.
Kondisi tersebut juga dapat dimanfaatkan oleh pelaku penipuan. Salah satu modus yang perlu diwaspadai adalah ketika seseorang tiba-tiba menghubungi dan mengaku telah salah mengirimkan sejumlah uang ke rekening kita, kemudian meminta uang tersebut dikembalikan dengan cara tertentu.
Sekilas terlihat seperti masalah sederhana. Namun, jangan langsung terburu-buru mengirimkan uang hanya karena seseorang mengaku telah melakukan kesalahan transfer.
1. Jangan Langsung Percaya dengan Bukti Transfer
Pelaku dapat mengirimkan screenshot atau bukti transfer untuk meyakinkan calon korban bahwa uang benar-benar telah dikirim.
Masalahnya, gambar atau bukti pembayaran dapat dimanipulasi. Karena itu, jangan menjadikan screenshot sebagai satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan.
Jika menerima informasi mengenai transfer masuk, periksa mutasi rekening melalui aplikasi atau layanan resmi yang digunakan. Pastikan transaksi tersebut memang benar-benar tercatat sebelum melakukan tindakan apa pun.
2. Jangan Biarkan Rasa Panik Membuat Kita Salah Mengambil Keputusan
Pelaku biasanya ingin korban segera mengembalikan uang. Mereka dapat mengatakan bahwa uang tersebut dibutuhkan untuk kebutuhan mendesak atau meminta pengembalian melalui rekening yang berbeda.
Dalam kondisi panik, seseorang mungkin langsung melakukan transfer tanpa memeriksa asal uang maupun identitas penerima.
Padahal, semakin besar tekanan yang diberikan, semakin penting untuk berhenti sejenak dan melakukan verifikasi.
Jika memang terdapat dana yang masuk secara tidak dikenal, simpan bukti transaksi dan lakukan pengecekan melalui pihak yang relevan sebelum mengembalikannya.
3. Waspadai Permintaan Data Pribadi
Modus penipuan juga dapat berkembang menjadi upaya mendapatkan data pribadi.
Setelah mengaku salah transfer, pelaku bisa meminta nomor rekening, informasi pribadi, atau bahkan meminta korban mengikuti instruksi tertentu untuk “membatalkan” transaksi.
Jangan memberikan informasi keamanan seperti PIN, password, atau kode verifikasi kepada siapa pun. Jika seseorang meminta data tersebut dengan alasan mengurus transfer, justru hal tersebut perlu menjadi tanda bahaya.
Tidak Semua Masalah Harus Diselesaikan dengan Cepat
Ketika menghadapi masalah keuangan, keinginan untuk segera menyelesaikannya memang wajar. Namun, keputusan yang terburu-buru justru dapat membuka peluang bagi penipu.
Biasakan memeriksa transaksi melalui aplikasi resmi, menyimpan bukti, dan melakukan konfirmasi sebelum mengirimkan uang kepada pihak lain.
Hal yang sama berlaku ketika menggunakan layanan keuangan digital. Pastikan informasi mengenai akun, transaksi, biaya, maupun pendanaan diperoleh melalui kanal resmi penyelenggara.
KrediOne merupakan penyelenggara Pindar yang berizin dan diawasi OJK. Informasi mengenai biaya, tenor, serta syarat dan ketentuan disampaikan secara transparan agar pengguna dapat memahami layanan sebelum mengajukan pendanaan.
Sebagai informasi, saat ini KrediOne hanya memiliki surat elektronik atau email resmi melalui cs@kredione.id atau customer service hotline di (021) 50880188 pada jam kerja, mulai pukul 08.00–20.00 WIB. Terkait pembatalan pinjaman, pengguna KrediOne dapat menghubungi customer service melalui email resmi tersebut.
Ketika uang tiba-tiba masuk atau ada seseorang mengaku salah transfer, jangan langsung panik dan jangan langsung mengirim uang kembali. Periksa terlebih dahulu agar niat menyelesaikan masalah tidak berubah menjadi kerugian.

Kantor Pelayanan Pelanggan
Ratu Plaza Office Tower, Lt.8,Jam Layanan Pengaduan Offline: 09:00 – 18:00 WIB
Kantor Pusat
Sampoerna Strategic Square North Tower Lt 27,Jam Layanan Pengaduan Offline: 09:00 – 18:00 WIB
Disclaimer Risiko
Copyright © 2026 PT Inovasi Terdepan Nusantara.
All rights reserved