
Belanja seringkali menjadi aktivitas yang menyenangkan dan memuaskan bagi banyak orang. Membeli makanan favorit, pakaian baru, atau barang yang sejak lama diinginkan dapat memberikan perasaan puas dan bahagia. Tetapi, justru kondisi tersebut perlu menjadi perhatian ketika aktivitas belanja dilakukan sebagai pelarian dari rasa stres, cemas, atau ketidakpastian yang sedang dihadapi. Fenomena ini dikenal dengan istilah doom spending.
1. Apa Itu Doom Spending?
Doom spending merupakan perilaku mengeluarkan uang secara berlebihan sebagai respons terhadap tekanan emosional atau kekhawatiran terhadap kondisi tertentu. Seseorang mungkin merasa bahwa berbelanja dapat memberikan kenyamanan sesaat ketika menghadapi stres akibat pekerjaan, masalah pribadi, maupun ketidakpastian ekonomi.
Perilaku ini berbeda dengan belanja untuk memenuhi kebutuhan atau sesekali memberikan penghargaan kepada diri sendiri. Pada doom spending, keputusan pembelian lebih banyak didorong oleh emosi dibandingkan pertimbangan rasional mengenai kebutuhan dan kemampuan finansial.
2. Mengapa Doom Spending Bisa Terjadi?
Ada berbagai faktor yang dapat memicu munculnya doom spending. Tekanan pekerjaan, rasa cemas terhadap masa depan, hingga paparan informasi negatif secara terus-menerus dapat mempengaruhi kondisi emosional seseorang. Belanja kemudian dianggap sebagai cara cepat untuk memperoleh rasa senang dan mengurangi ketidaknyamanan yang dirasakan.
Kemudahan transaksi digital juga turut berkontribusi terhadap kebiasaan ini. Berbagai promosi, diskon, serta proses pembayaran yang semakin praktis membuat seseorang dapat melakukan pembelian hanya dalam hitungan menit. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan perilaku konsumtif apabila tidak dibersamai dengan pengendalian diri yang baik.
Pengaruh media sosial juga tidak dapat diabaikan. Paparan gaya hidup tertentu atau tren konsumsi yang terlihat di berbagai platform dapat mendorong seseorang untuk melakukan pembelian demi mendapatkan kepuasan atau perasaan diterima dalam lingkungan sosialnya.
3. Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai
Ada beberapa tanda yang dapat menjadi indikasi bahwa seseorang mulai mengalami doom spending. Keinginan untuk berbelanja sering muncul ketika sedang merasa sedih, stres, atau bosan. Perasaan bersalah setelah melakukan pembelian juga dapat menjadi sinyal bahwa keputusan tersebut dilakukan secara impulsif.
Kondisi lain yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang kesulitan mengingat atau melacak pengeluarannya sendiri karena terlalu sering melakukan transaksi kecil yang sebenarnya tidak direncanakan. Penggunaan dana yang seharusnya dialokasikan untuk kebutuhan penting demi memenuhi keinginan sesaat juga patut menjadi perhatian.
4. Dampak terhadap Kondisi Keuangan
Doom spending yang terjadi secara berulang dapat memberikan dampak terhadap kesehatan finansial. Pengeluaran yang tidak terkontrol dapat mengurangi kemampuan untuk menabung dan mempersiapkan dana darurat. Berbagai tujuan keuangan jangka panjang, seperti dana pendidikan, investasi, atau rencana pembelian aset, juga berpotensi tertunda.
Tekanan finansial yang muncul akibat kebiasaan tersebut justru dapat memperburuk kondisi emosional seseorang. Siklus antara stres dan belanja impulsif berisiko terus berulang apabila tidak segera disadari dan dikelola dengan baik.
5. Cara Mengelola Doom Spending
Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mengenali pemicu emosional yang mendorong keinginan untuk belanja. Kesadaran terhadap kondisi diri dapat membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih rasional sebelum melakukan transaksi. Membuat anggaran bulanan dan menetapkan batas pengeluaran untuk kebutuhan non-prioritas juga dapat menjadi strategi yang efektif. Kebiasaan memberikan jeda waktu sebelum membeli barang yang diinginkan dapat membantu memastikan bahwa keputusan tersebut benar-benar didasarkan pada kebutuhan.
Aktivitas lain yang bersifat positif, seperti berolahraga, berbicara dengan orang terdekat, menjalankan hobi, atau membaca buku, dapat menjadi alternatif untuk mengelola stres tanpa harus mengeluarkan uang secara berlebihan. Kesehatan finansial tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya pendapatan, tetapi juga oleh bagaimana seseorang mengelola emosi dalam mengambil keputusan keuangan. Memahami fenomena doom spending dapat menjadi langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang dan kebiasaan konsumsi.
Mengelola keuangan secara bijak merupakan bagian penting dalam menjaga kestabilan finansial. Ketika menghadapi kebutuhan mendesak, masyarakat juga perlu memastikan bahwa keputusan penggunaan layanan pendanaan dilakukan secara terencana dan sesuai kemampuan bayar. Pemahaman yang baik mengenai kondisi keuangan pribadi dapat membantu seseorang memanfaatkan berbagai layanan keuangan secara lebih bertanggung jawab.
Sebagai penyelenggara layanan pendanaan berbasis teknologi informasi yang berizin dan diawasi oleh OJK, KrediOne senantiasa mendukung peningkatan literasi keuangan masyarakat agar dapat mengambil keputusan finansial secara bijak. Penggunaan layanan pendanaan hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan serta kemampuan dalam melakukan pembayaran kembali.
Sebagai informasi, saat ini KrediOne hanya memiliki surat elektronik atau email resmi melalui cs@kredione.id atau customer service hotline di (021) 50880188 pada jam kerja, mulai pukul 08.00 - 20.00 WIB. Selain itu, terkait perihal pembatalan pinjaman KrediOne dapat menghubungi customer service kami di email yang tertera di atas.

Kantor Pelayanan Pelanggan
Ratu Plaza Office Tower, Lt.8,Jam Layanan Pengaduan Offline: 09:00 – 18:00 WIB
Kantor Pusat
Sampoerna Strategic Square North Tower Lt 27,Untuk sementara waktu, Kantor Pusat belum dapat menerima kunjungan tamu. Sehubungan dengan kebutuhan layanan dan keperluan operasional, Bapak/Ibu dapat mengunjungi Kantor Operasional kami.
Disclaimer Risiko
Copyright © 2026 PT Inovasi Terdepan Nusantara.
All right reserved